top of page

Penyandang Disabilitas Berprestasi Sulit Mencari Sekolah, Ditolak dengan Alasan Kuota Penuh

Diperbarui: 26 Nov 2024

SURABAYA - analisapost.com | Naomi Oktavia seorang siswi disabilitas, asal kota Surabaya tinggal di Sidoarjo yang memiliki segudang prestasi tak cukup untuk membuatnya lolos masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) yang diimpikan.

Naomi Oktavia siswi disabilitas bersama sang Bunda, Nurul Vitrianingrum
Naomi Oktavia siswi disabilitas bersama sang Bunda, Nurul Vitrianingrum (Foto: Dok pribadi)

Padahal, gadis usia 17 tahun ini memiliki catatan nilai yang bagus selama mengenyam pendidikan di SMPN 1 Gedhangan, Sidoarjo. Nurul Vitrianingrum, sang ibu menunjukan bahwa nilai mata pelajaran putrinya rata-rata 80 hingga 90.


Berbagai prestasi telah dikantongi dari juara satu menyanyi, juara satu lomba tari, fashion, baca puisi, menggambar mulai tingkat kabupaten hingga di tingkat nasional.


Sang bunda, Nurul menilai, Naomi dinyatakan tidak diterima oleh salah satu SMKN terkemuka di Kabupaten Sidoarjo dengan alasan yang tidak jelas. Padahal dia mendaftar lewat jalur afirmasi sebagai penyandang disabilitas. PPDB 2024 sangatlah merugikan baik untuk siswa reguler apalagi siswa inklusi.


“Saya sudah melakukan yang terbaik, tapi nyatanya anak saya yang paling kecil dari 3 bersaudara ini tidak diterima dengan alasan yang tidak masuk akal," kata Nurul saat dimintai keterangan lewat sambungan telpon oleh awak media AnalisaPost.


Alasan tak masuk akal yang dimaksud Nurul adalah kuota yang disebut sudah penuh oleh pihak sekolah. Mengetahui seperti itu, ia pun tidak berharap terlalu tinggi untuk putrinya.


Upaya Menghibur Anak Gadisnya


Naomi penyandang Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan bundanya telah berusaha mencarikan sekolah yang sesuai minat bakat putrinya dengan melakukan pendekatan ke pihak sekolah hingga mengikuti tes assessment, namun hasilnya nihil.


Nurul ingin putrinya setelah lulus sekolah memiliki keahlian, khususnya dalam bidang memasak, membuka bisnis kuliner dan mengikuti master chef Indonesia seperti keinginan Naomi. Dia juga telah berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait dan mengadu kepada Dinas Pendidikan Provinsi jawa Timur, tetapi semua belum mendapatkan titik terang.


"Saya sudah coba jalin komunikasi dengan beberapa pejabat di Dinas Pendidikan Jatim, mendaftarkan Naomi ke beberapa sekolah SMKN, namun belum ada hasil tetap di tolak dengan alasan kuota sudah penuh," ungkap Nurul.


"Dengan kejadian seperti ini, saya mencoba untuk menjelaskan kepada putri saya. Pertama sih nangis terus kak, karena Naominya sudah terlanjur jatuh cinta dengan SMKN 1 Buduran. Meskipun demikian, saya berusaha tetap mencari pengganti SMKN kuliner di Sidoarjo atau Surabaya Alhamdulillah akhirnya Naomi mau menerima sekolah menengah kejuruan di Satya Widya, Surabaya," cerita wanita yang gigih mendampingi putrinya.


"Setelah berita Naomi viral, saya mendapatkan kabar Naomi diterima tetapi ada persyaratan, saya tidak mau lagi deh kak hati saya sudah terlanjur sakit banyak kecurangan terjadi. Rencana kita akan cari kost-kost an kak, agar ananda tidak begitu capek," paparnya.

Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Kota Surabaya, Syaiful Bachri,SP
Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Kota Surabaya, Syaiful Bachri,SP (Foto: Div)

Ditempat terpisah, Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Kota Surabaya, Syaiful Bachri,SP menyampaikan bahwa ia sangat menyayangkan dengan kejadian yang menimpa Naomi.


"Dengan regulasi yang ada serta apa yang dimunculkan Naomi, harusnya pemerintah hadir untuk bisa memberikan peluang sehingga dapat meneruskan pendidikan seperti yang tercantum di dalam undang-undang dan juga sebagai salah satu dari 10 hak dasar anak," ujar Syaiful Bachri yang kerap di sapa Kak Ipul kepada awak media AnalisaPost, Minggu (30/6/24).


"Kami akan mencoba mencari informasi sebanyak mungkin dan sedetail mungkin apa dan mengapa hal tersebut terjadi pada anak Naomi. Apalagi Sidoarjo adalah kota inklusi yang kedua, Seharusnya pemerintah Jawa Timur memberikan kesempatan untuk anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat melakukan dan melanjutkan pendidikan sesuai dengan minat kemampuan serta berdasarkan regulasi yang berlaku," imbuhnya.


"Kami mengetuk hati para praktisi untuk dapat bergandengan tangan dan mendampingi anak-anak seperti Naomi. Harapan kami ini tidak terjadi dan berulang kepada anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki prestasi. Dengan demikian mereka bisa berkembang dan memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya dan masa depan dia berbakti pada nusa dan bangsa," tegas Ketua Komnas PA Surabaya. (Dna/Che)


Dapatkan berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari dan ikuti berita terbaru analisapost.com di Google News klik link ini jangan lupa di follow

#komnasanaksurabaya #ericahyadi #armuji

Comments


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya