Ka Po’o, Ritual Adat Nasi dalam Bambu Adat Kampung Aunua
- analisapost
- 2 menit yang lalu
- 3 menit membaca
NTT- analisapost.com | Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat adat Kampung Aunua (Potu), Desa Mautenda, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur, tetap kokoh menjaga dan merawat warisan leluhur mereka melalui ritual adat tahunan bernama “Ka Po’o”.

Sebuah tradisi sakral yang mengikat kekeluargaan, kebersamaan, dan rasa syukur kepada leluhur atas siklus hidup berladang yang menjadi napas kehidupan masyarakat Suku Lio Ende.
Ritual Ka Po’o dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari tata berladang yang diwariskan secara turun-temurun. Tahun ini, acara berlangsung khidmat pada Jumat, 25 November 2022, dimulai sejak pukul 07.00 WITA, berpusat di rumah adat Kampung Aunua dan dilanjutkan di kebun adat yang menjadi bagian integral dari sistem kosmologi masyarakat adat Lio.
Dalam keterangannya kepada awak media Analisapost, Kepala Suku Aunua atau Mosalaki Pu'u, Bapak Karolus Pale menjelaskan bahwa Ka Po’o merupakan salah satu ritual penting yang wajib digelar setiap tahun.
"Ritual ini melibatkan seluruh pemangku adat (mosalaki) serta para penggarap lahan (fai walu ana kalo), sebagai bentuk penghormatan dan permohonan kepada leluhur sebelum membuka ladang baru," ujarnya.
Upacara Ka Po’o ditandai dengan momen simbolis memasak nasi dalam bambu, sebuah prosesi sakral yang dilakukan oleh para ibu di kampung. Tradisi ini menyatukan seluruh lapisan masyarakat adat, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda.
Setelah nasi matang, seluruh mosalaki dan penggarap berkumpul untuk makan bersama dari hasil Are Po’o, nasi yang dimasak dalam bambu. Kebersamaan ini mencerminkan filosofi hidup masyarakat adat yang menjunjung tinggi nilai kolektivitas dan spiritualitas dalam bertani.
“Tradisi ini bukan hanya tentang makan bersama,” lanjut Karolus Pale. “Tapi ini lambang kesatuan antara manusia, alam, dan leluhur. Simbol bahwa sebelum manusia menyentuh tanah, harus ada restu dari leluhur.”
Makna Filosofis dan Peran Perempuan dalam Ritual
Ritual Ka Po’o juga mengandung makna mendalam tentang peran gender dalam budaya Lio. Para perempuan yang memasak nasi dalam bambu diposisikan sebagai simbol rahim bumi, sumber kesuburan dan kehidupan.
“Perempuan adalah rahim kehidupan, mereka adalah bumi. Sedangkan laki-laki adalah langit yang melindungi dan menjaga. Ini simbol keseimbangan dan kesetaraan dalam kehidupan adat,” ujar Karolus Pale menegaskan.
Keselarasan antara langit dan bumi, laki-laki dan perempuan, menjadi fondasi kehidupan yang diyakini akan mendatangkan kelimpahan panen, rezeki, serta keharmonisan dalam keluarga dan komunitas adat.
Patangan Adat dan Ketaatan terhadap Larangan Leluhur
Setelah upacara utama Ka Po’o, masyarakat memasuki masa pantangan adat atau pire selama dua hari.
Dalam masa ini, seluruh penggarap dilarang menyentuh atau memetik daun, beraktivitas di kebun, menjemur pakaian di luar rumah, serta menyalakan api di luar rumah. Larangan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap wejangan para mosalaki dan restu leluhur yang dipercayai menjaga alam serta panen mendatang.
“Jika pantangan dilanggar, maka sanksi adat (poi) akan diberlakukan oleh mosalaki. Ini bukan sekadar larangan, tetapi bagian dari ketaatan terhadap tatanan nilai adat yang sudah diwarisi sejak dulu,” jelas Karolus Pale.

Mewariskan Tradisi kepada Generasi Muda
Petrus Yordius Logo (Jordy), salah satu pemuda dari garis keturunan kepala suku Aunua, turut menyampaikan harapannya agar generasi muda tetap menjaga dan melestarikan kekayaan budaya Lio.
"Semoga semua penggarap diberkahi rezeki, dijaga dan dilindungi oleh leluhur. Ritual ini bukan hanya permohonan kepada mereka yang telah mendahului kita, tapi juga panggilan bagi kita kaum muda untuk tetap menjaga jati diri dan budaya,” tutur Jordy.
Ia menekankan bahwa kebudayaan adat Lio bukan hanya sekadar warisan, tapi identitas yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tarian, sesajian, hingga kearifan dalam berladang.
Simbol Keabadian Tradisi dan Doa untuk Masa Depan
Ritual Ka Po’o adalah pengingat bahwa tanah yang dipijak dan hasil yang dituai bukan sekadar dari kerja keras manusia, tapi juga dari restu leluhur dan keseimbangan hubungan dengan alam.
Dalam tiap sesajian yang diberikan, doa-doa dilantunkan: untuk panen yang melimpah, tanah yang subur, keluarga yang sehat, dan kampung yang sejahtera.
Di tengah tantangan zaman, Ka Po’o tetap tegak berdiri sebagai tiang nilai yang menyatukan masyarakat adat Kampung Aunua. Ritual ini tidak hanya menjadi bentuk permohonan spiritual, tetapi juga manifestasi nyata dari semangat gotong royong, kesetaraan, serta cinta terhadap warisan budaya yang terus dijaga agar tidak punah oleh waktu.(wilfridaus)
Dapatkan berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari dan ikuti berita terbaru analisapost.com di Google News klik link ini jangan lupa di follow.
Comments